PENGARUH LEVEL BATU BATA DENGAN LAMA PEMERAMAN TERHADAP PENYUSUTAN BOBOT DAN ORGANOLEPTIK TELUR ASIN ITIK

Penulis

  • Atep Syahrul Amin Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Garut
  • Titin Nurhayatin Universitas Garut
  • Ervi Herawati Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Garut
  • Tati Rohayati Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Garut

DOI:

https://doi.org/10.52434/janhus.v10i1.43175

Kata Kunci:

lama pemeraman, Organoleptik, Penyusutan Bobot, Telur asin itik, batu bata

Abstrak

Sebagai salah satu produk peternakan, telur memiliki daya simpan yang rendah. Oleh karena itu, pengolahan menjadi telur asin merupakan metode pengawetan yang sering diterapkan. Penelitian ini difokuskan pada identifikasi dosis serbuk batu bata dan lama pemeraman yang mampu memberikan efek paling optimal terhadap reduksi berat dan sifat sensorik (organoleptik) telur asin itik. Studi ini telah dilaksanakan pada Februari 2023 di lokasi Kampung Cikendi RT/RW 001/004, Desa Sukawangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Metodologi eksperimen menggunakan Desain Acak Lengkap (RAL). Struktur rancangan ini terdiri dari enam taraf perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali, sehingga total satuan eksperimental yang digunakan adalah 18 unit. Perlakuan-perlakuan yang diaplikasikan meliputi: P1: Rasio 2:1 (batu bata:garam), 7 hari pemeraman; P2: Rasio 2:1, 14 hari pemeraman; P3: Rasio 2,5:1, 7 hari pemeraman; P4: Rasio 2,5:1, 14 hari pemeraman; P5: Rasio 3:1, 7 hari pemeraman; P6: Rasio 3:1, 14 hari pemeraman. Variabel yang diukur adalah penyusutan bobot, serta karakteristik organoleptik (meliputi warna, aroma, dan rasa). Temuan penelitian mengindikasikan bahwa baik konsentrasi serbuk batu bata maupun durasi pemeraman memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penyusutan bobot dan atribut organoleptik telur asin itik. Perlakuan P4, yang terdiri dari rasio 2,5 bagian batu bata terhadap 1 bagian garam dan periode fermentasi selama 14 hari, memberikan hasil terbaik.

Referensi

Amir, N., M. Metusalach. dan F. Fahrul. (2018). Mutu dan Keamanan Pangan Produk Ikan Asap di Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Agribisnis Perikanan, 11(2): 1521.

Engelen, A. (2017). Analisis Sensori dan Warna pada Pembuatan Telur Asin dengan Cara Basah. Jurnal Technopreneur (JTech), 5(1): 8-12.

Gaspersz, V. (2018). Metode Perancangan Percobaan untuk Ilmu-Ilmu Pertanian Ilmu-Ilmu Teknik Biologi. Armico. Bandung

Harianto, A. (2016). Proses Pembuatan Telur Asin. PT. Gramedia Jakarta.

Jazil, N., A. Hintono, dan S. Mulyani. (2013). Penurunan Kualitas Telur Ayam Ras dengan Intensitas Warna Coklat Kerabang Berbeda Selama Penyimpanan. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 2(1): 43-47.

Kurtini, T., K. Nova., dan D. Septinova. (2011). Produksi Ternak Unggas. Tesis. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Kusumaningrum, I. (2009). Analisa Produk Pengolahan Telur Asin. Skripsi. Universitas Mulawarman.

Lesmayati, S. dan E. S. Rohaeni. (2014). Pengaruh Lama Pemeraman Telur Asin Terhadap Tingkat Kesukaan Konsumen. Prosiding Seminar Nasional “Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi. 695-601.

Nurhalim, J., T.Nurhayatin., T.Rohayati dan E.Herawati. (2024). Pengaruh Dosis Garam terhadap Bobot dan Tingkat Kesukaan Telur Asin Ayam Ras. Jurnal Ilmu Peternakan (JANHUS), 9(1):136-145.

Qomaruddin, M., dan H. Afandi. (2017). Tingkat Kesukaan Konsumen terhadap Telur Asin Ayam Ras dan Telur Asin Itik Di Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan. Jurnal Ternak, 8(2): 23-29.

Soekarto, S.T. (2013). Teknologi Penanganan dan Pengolahan Telur. Alfabeta. Bandung.

Sukma, A. W., A. Hintono., dan B. E. Setiani. (2012). Perubahan Mutu Hedonik Telur Asin Sangrai selama Penyimpanan. Animal Agriculture Journal, 1(1): 585-598.

Thohari. I., M. C. P. Mustakim., dan P. P. Premy. (2017). Teknologi Hasil Ternak. UB Press. Malang.

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-31