Self- disclosure pasangan gen z dalam long distance marriage (LDM) di usia pernikahan awal
DOI:
https://doi.org/10.52434/jk.v12i2.44190Abstrak
Abstract
This study aims to examine and describe the dynamics of self-disclosure among Generation Z couples experiencing Long Distance Marriage (LDM) during the early stage of marriage (1–5 years of marital duration). The study employed a qualitative descriptive method within a constructivist paradigm. Data were collected through in-depth interviews with five Generation Z couples selected using purposive sampling, supported by documentation techniques. Data analysis followed the Miles and Huberman model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the self-disclosure process is manifested through structured and intensified digital communication as a response to the dialectical tension between connection and separation. Couples adopt a strategy of selective openness grounded in honesty to minimize emotional risks and maintain a balanced privacy risk–benefit ratio in accordance with the Communication Privacy Management (CPM) theory. The presence of children transforms the motivation for self-disclosure from merely exchanging daily information into a means of providing emotional support and validating new parental roles. These findings highlight that digital media, particularly video calls, serve as a crucial compensatory communication medium for digital natives, enabling them to manage collective privacy boundaries and reduce relational jealousy, thereby maintaining the stability of long-distance marital relationships.
Keywords: Self-disclosure; generation z; long distance marriage; early stage of marriage; digital natives.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan dinamika keterbukaan diri (selfdisclosure) di antara pasangan Generasi Z yang menjalani pernikahan jarak jauh atau Long Distance Marriage (LDM) pada fase usia pernikahan awal (1–5 tahun). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap lima pasang suami istri Generasi Z yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, didukung oleh teknik dokumentasi interaksi digital. Analisis data menerapkan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses self-disclosure diwujudkan melalui intensifikasi komunikasi digital yang terstruktur sebagai strategi adaptasi dalam mengelola ketegangan dialektis antara hubungan dan keterpisahan fisik. Pasangan menerapkan strategi keterbukaan selektif berbasis kejujuran untuk meminimalisir risiko emosional dan menjaga rasio risiko-manfaat batas privasi yang seimbang sesuai dengan Teori Communication Privacy Management (CPM). Kehadiran anak mentransformasi motivasi keterbukaan diri dari yang semula sekadar pertukaran informasi harian menjadi sarana krusial untuk pemenuhan dukungan emosional serta validasi peran pengasuhan baru. Temuan ini menegaskan bahwa media digital, khususnya fitur panggilan video, berfungsi sebagai medium kompensasi kehadiran fisik yang sangat vital bagi karakter digital natives dalam mengoordinasikan batas privasi kolektif, mereduksi kecemburuan relasional, sekaligus merawat keintiman hubungan pernikahan jarak jauh.
Kata-kata kunci: Keterbukaan diri; generasi z; pernikahan jarak jauh; usia pernikahan awal; digital natives.
Download Journal Template













