Membaca pesan transendental melalui komunikasi ritual wiaha manu
DOI:
https://doi.org/10.52434/jk.v12i1.43585Abstrak
Abstract
This study explores and analyzes communication practices within the Wiaha Manu ritual of the indigenous Kodi community in Southwest Sumba Regency. This sacred ritual bridges the interaction between humans and their ancestors (Marapu) through a unique medium: chicken intestines. Using a qualitative approach and the ethnography of communication method, the study examines the ritual's communicative structure through Dell Hymes's SPEAKING model framework. Data were collected through participatory field observation, in-depth interviews with Ratos (traditional leaders), and analysis of documents related to Sumbanese cosmology. Findings reveal the Wiaha Manu ritual to be a complex transcendental communication system in which the Rato plays a central role as a symbolic mediator with sole interpretive authority. Analysis using the SPEAKING model reveals that the effectiveness of this ritual communication depends heavily on the strict sequence of actions, the solemn sacred tone and the use of the chicken's body as a 'biological text', which is translated into social instructions. Conceptually, this ritual transcends the spiritual dimension, serving as a strategic means of constructing collective meaning, strengthening social cohesion through customary consensus and preserving the cultural identity of the Kodi community in the face of changing times. This study concludes that the Wiaha Manu ritual is a form of communication that perpetuates traditional values while legitimising social power structures within indigenous Sumbanese society. Keywords: communication; ethnography; wiaha manu; kodi society; transcendental communication; speaking model.
Abstrak
Penelitian ini mengeksplorasi dan menganalisis praktik-praktik komunikasi dalam ritual Wiaha Manu di kalangan masyarakat adat Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Ritual ini merupakan peristiwa komunikasi sakral yang menjembatani interaksi antara manusia dengan leluhur (Marapu) melalui media unik berupa usus ayam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi komunikasi, penelitian ini membedah struktur komunikatif ritual tersebut secara komprehensif melalui kerangka model SPEAKING karya Dell Hymes. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi partisipatif di lapangan, wawancara mendalam dengan para Rato (pemimpin tradisional), serta analisis dokumen terkait kosmologi masyarakat Sumba. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ritual Wiaha Manu bermanifestasi sebagai sebuah sistem komunikasi transendental yang kompleks, di mana Rato memegang peran sentral sebagai mediator simbolis yang memiliki otoritas interpretatif tunggal. Analisis melalui model SPEAKING mengungkapkan bahwa efektivitas dan keberhasilan komunikasi ritual ini sangat bergantung pada rigiditas urutan tindakan yang ketat (act sequence), nada suci yang khidmat dan megah (key), serta penggunaan organ fisik ayam sebagai “teks biologis” (instrumentalities) yang kemudian diterjemahkan menjadi instruksi sosial yang mengikat. Secara konseptual, ritual ini berfungsi melampaui dimensi spiritual; ia berperan sebagai sarana strategis untuk mengonstruksi makna kolektif, memperkuat kohesi sosial melalui konsensus adat, dan melestarikan identitas budaya komunitas Kodi di tengah arus perubahan zaman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Wiaha Manu adalah institusi komunikasi yang mereproduksi nilai-nilai tradisional sekaligus melegitimasi struktur kekuasaan sosial dalam masyarakat adat Sumba. Kata-kata kunci: Etnografi komunikasi; wiaha manu; masyarakat kodi; komunikasi transendental; model speaking.
Download Journal Template













