Mendorong Perilaku Ramah Lingkungan di Kalangan Wisatawan Melalui Pengalaman Lingkungan dan Ikatan Terhadap Tempat dengan Memperkuat Kepedulian Lingkungan dalam Pariwisata Alam di Nusa Tenggara Barat

Penulis

  • Pandu Sapto Desmantyo Politeknik Pariwisata Lombok
  • Rochmah Dewi Suryani Politeknik Pariwisata Lombok
  • Rivaldi Arissaputra Universitas 'Aisyiyah Bandung
  • Sarah Sentika

DOI:

https://doi.org/10.52434/jwe.v25i3.43693

Abstrak

Pertumbuhan pariwisata berbasis alam di Indonesia belum diiringi dengan peningkatan perilaku lingkungan pengunjung, sehingga menimbulkan kesenjangan antara ekspansi pariwisata dan keberlanjutan ekologis. Penelitian ini mengkaji hubungan antara Experiencescape, Place Attachment, Environmental Concern, dan Environmentally Responsible Behaviour (ERB) pada wisatawan yang mengunjungi destinasi wisata alam di Nusa Tenggara Barat (NTB), Indonesia. Menggunakan desain kuantitatif verifikatif, data dikumpulkan dari 266 responden melalui purposive sampling dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) dengan 5.000 resampling bootstrapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Experiencescape berpengaruh signifikan terhadap Place Attachment, dan Place Attachment secara positif mendorong ERB. Namun, Experiencescape tidak berpengaruh langsung terhadap ERB, yang menunjukkan bahwa perubahan perilaku terjadi melalui mediasi emosional, bukan melalui stimulus pengalaman secara langsung. Environmental Concern secara signifikan memoderasi hubungan antara Experiencescape dan Place Attachment dengan arah negatif, yang mengindikasikan bahwa wisatawan dengan kepedulian lingkungan tinggi cenderung memiliki standar evaluasi yang lebih kritis terhadap pengalaman yang mereka rasakan. Sementara itu, Environmental Concern tidak secara signifikan memoderasi hubungan antara Experiencescape dan ERB maupun antara Place Attachment dan ERB. Temuan ini menegaskan bahwa membangun keterikatan emosional yang kuat antara wisatawan dan destinasi alam lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan kualitas pengalaman dalam mendorong perilaku ramah lingkungan. Oleh karena itu, pengelola destinasi dan pembuat kebijakan di NTB disarankan untuk memprioritaskan desain experiencescape yang autentik secara ekologis dan bersifat interpretatif guna memperkuat place attachment sebagai jalur tidak langsung dalam mendorong perilaku wisatawan yang berkelanjutan.

Diterbitkan

2026-08-12

Terbitan

Bagian

Jurnal Wacana Ekonomi