Pelita: Pendampingan Berbasis Empati Menumbuhkan Kesadaran Anti-Bullying Peserta Didik Sekolah Dasar Sederajat di Desa Banjarsari

Penulis

  • Nafisa Rizka Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Miftahul Huda Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Imasfida Mustafidah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Komala Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Minkhatul Maula Insyiya Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Windi Selfiana Putri Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Laelatul Farokhah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Mas Wisnu Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Ais Futichatul Maryam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Aly Kharina Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Putri Laeli Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Zulfatun Ni'mah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia
  • Mohamad NurJamil Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah 52252, Indonesia

Abstrak

Perundungan (bullying) masih menjadi persoalan serius di sekolah dasar Indonesia dan menghambat upaya membangun lingkungan belajar yang aman. Edukasi anti-bullying sering kali terbatas pada penyampaian definisi dan larangan serta jarang mengembangkan kemampuan peserta didik memahami dampak perilakunya terhadap orang lain. Artikel ini mendeskripsikan pelaksanaan Program PELITA (Pelajar Peduli, Lindungi Teman, dan Raih Cita) sebagai program pendampingan edukatif berbasis empati dalam konteks pengabdian kepada masyarakat (KKN) untuk menumbuhkan kesadaran anti-bullying. Dengan pendekatan deskriptif, program dilaksanakan di tiga sekolah, yaitu SDN Banjarsari 01, SDN Banjarsari 02, dan MI I’anatul Athfal, dengan melibatkan 294 peserta didik; data kegiatan dari observasi, catatan lapangan, dokumentasi, dan keterangan pihak sekolah dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman (kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi simpulan) dan ditriangulasi antar-sumber. Hasil menunjukkan bahwa program mengarahkan peserta didik melampaui pengenalan bentuk perundungan menuju pengambilan perspektif korban: pada sesi refleksi banyak peserta didik terdiam atau menangis, sebagian mengakui pernah mengejek atau mengucilkan teman, dan sebagian berkomitmen untuk berhenti melakukan perundungan serta membela teman. Respons berbeda menurut jenjang. Program ini memadukan edukasi anti-bullying, media berbasis cerita, empati, dan refleksi, serta menegaskan pentingnya keterlibatan sekolah secara berkelanjutan agar nilai anti-bullying menjadi kebiasaan sehari-hari.

Unduhan

Diterbitkan

2026-10-04

Terbitan

Bagian

Jurnal Pendidikan Agama Islam